Friday, April 9, 2010

Keperluan Kecerdasan Emosi di Kalangan Pendidik

Keperluan Kecerdasan Emosi di Kalangan Pendidik

Dr. Syafrimen, M. Ed
syafrimens@yahoo.com

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan keperluan kecerdasan emosi (EQ) dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini spesifik perbincangan adalah kepentingan EQ di kalangan guru-guru yang berperan sebagai “pembawa perobahan” di sekolah. Pembahasan dibuat berdasarkan konsep EQ Goleman-Noriah et al (2004) yaitu menyentuh aspek [kesadaran terhadap diri sendiri, kemampuan menilai diri, motivasi, empati, sosial skill, spritualitas dan kematangan]. Agar penulisan ini lebih menarik penulis coba mendiskusikan berdasarkan fakta hasil penelitian yang dilakukan sewaktu menyelesaikan program Master di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Penelitian dilakukan terhadap guru-guru Sekolah Menengah Zon Tengah Semenanjung Malaysia. 174 orang guru yang bekerja di 11 buah Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) telah dipilih sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan angket Malaysian Emotional Quoetient Inventory (MEQI) oleh Noriah Mohd Ishak et al (2004), dan dianalisis secara deskriptif (Min dan standar deviasi) berbantukan software statistik SPSS Versi 11.5. Hasil penelitian menunjukkan, secara umumnya guru-guru menyatakan persetujuan mereka tentang keperluan/kepentingan EQ dalam dunia pendidikan. Bagaimanapun, hasil penelitian mendapati profil EQ guru-guru yang diteliti hanya tinggi pada domain spritualitas dan kematangan, namun masih rendah pada lima domain-domain yang lain yang semestinya juga penting bagi guru-guru tersebut. Implikasi hasil penelitian tersebut didiskusikan berdasarkan teori dan hasil-hasil penelitian sebelum ini.


Abstract

This article aims to discuss the needs of emotional intelligence (EQ) in education. Here, specific discussion is on the importance of EQ among teachers who serve as "agents of change" in schools. The discussion is based on the concept of EQ proposed by Goleman-Noriah et al (2004) covering aspects such as self-awareness, self-regulation, motivation, empathy, social skills, spirituality as well as maturity. In this writing, the author discusses the results of a fact-based research carried out while he was completing a Masters degree at Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). The research was conducted for the teachers of Central High School, Peninsular Zone, Malaysia. About 174 teachers working in 11 Secondary State Schools (SMK), had been selected as the study sample. Data were collected using a questionnaire “Malaysian Quotient Emotional Inventory (MEQI)”, designed by Noriah Mohd Ishak et al. (2004), and analyzed descriptively (mean and standard deviation) using statistical software SPSS Version 11.5. The results showed that most teachers expressed their approval of the use of EQ in the world of education. However, the EQ profiles of the teachers were high only on the domain spirituality and maturity, but still low on the other five domains that should also essential owned by these teachers. Implications of these findings are discussed based on the theory and the research results.


A.Pendahuluan

Sekolah merupakan institusi pendidikan untuk membentuk dan mengubah tingkah laku siswa (mendidik) ke arah yang lebih baik. Tugas guru tentunya melaksanakan fungsi tersebut untuk menciptakan suasana yang dapat menghasilkan perobahan tingkah laku dimaksudkan (Atan Long 1978; Tajul Ariffin 2002). Dalam pendidikan formal, peranan guru tidak disangsikan lagi bahwa mereka merupakan insan untuk menyuburkan pemikiran, kestabilan emosi, dan kesejahteraan fisiologikal siswa, terutama apabila mereka berada dalam lingkungan sekolah. Dampak yang ditinggalkan oleh seorang guru terhadap siswanya boleh mempengaruhi corak pembelajaran dan karir pelajar tersebut di masa depan (Abu Bakar & Ikhsan 2003). Abu Bakar & Ikhsan juga menyatakan terdapat tiga tanggungjawab dasar yang dipikul oleh guru-guru dalam mensukseskan pendidikan, iaitu; (i) guru sebagai contoh ataupun role model, (ii) guru sebagai pembentuk akhlak yang baik, dan (iii) guru sebagai pakar mata pelajaran yang mereka ajarkan. Guru mestilah menjadi contoh bukan saja di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah, bahkan mereka perlu menjadi contoh kepada masyarakat. Tanggung jawab guru sebagai pendidik, tidak selesai hanya sebatas waktu bekerja, tetapi terus berkelanjutan selagi mereka berinteraksi dengan masyarakat, paling tidak masayarakat sekelilingnya.

Profesi sebagai guru merupakan salah satu profesi yang sangat mulia. Bagaimanapun, profesionalisme seorang guru itu tergantung kepada sikap mereka terhadap profesinya yang dicerminkan melalui tingkahlaku kepada siswa. Sebagai pendidik, guru mestilah menjadi contoh yang baik, selalu melakukan rekfleksi terhadap diri sendiri (Parson & Stephenshon 2005), berdisplin, bersungguh-sungguh dalam mendidik, menepati waktu, berakhlak mulia, dan mempunyai emosi yang stabil. Keperibadian seperti ini dapat memberikan dampak positif dalam pembentukan kepribadian siswa. Hal ini sejalan dengan perintah Allah s.w.t seperti dinyatakan berikut ini;

Serulah olehmu kepada jalan Tuhan-Mu dengan bijaksana dan cara yang baik (mau'izah hasanah), serta tegurlah mereka dengan cara yang sesuai (Q.S. An-Nahl: 125).

Tugas guru tidak hanya melahirkan siswa yang sukses secara akademik, tetapi juga bertanggungjawab membentuk akhlak dan kepribadian siswa ke arah yang lebih baik. Guru mestilah dinamis, senantiasa mencari dan menimba ilmu pengetahuan baru melalui pembelajaran dan pengalaman, serta mau menerima perobahan yang senantiasa terjadi sesuai dengan perkembangan zaman. Tajul Ariffin dan Nor' Aini (2002) menyatakan guru yang baik adalah guru yang senantiasa membina keunggulan pribadi siswa dengan cara mempelbagaikan suasana pengajaran dan pembelajaran. Guru perlu memiliki keseimbangan antara penghayatan agama dan moral sebagai ruh pendidikan dengan ilmu yang diajarkan kepada siswa, dan juga seluruh urusan yang berkaitan dengan kehidupannya. Guru juga perlu senantiasa meningkatkan kualitas diri melalui berbagai latihan yang dapat meningkatkan profesionalisme mereka. Guru perlu menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, menggalakkan pembinaan kepribadian siswa secara menyeluruh, menyuburkan hubungan yang sehat sesama insan di sekolah, menyiapkan siswa untuk memahami realita kehidupan, menguasai skills hidup, serta mampu melaksanakan pendidikan yang berkualitas (Tajul Ariffin & Nor' Aini 2002).

Mok Soon (1992) menyatakan guru merupakan tenaga profesional yang bertanggungjawab untuk mendidik siswa yang merupakan aset masa depan. Selain bertugas sebagai pendidik dan fasilitator di sekolah guru juga berperan sebagai pengganti orang tua siswa. Justeru, tanggungjawab mendidik seorang guru sekaligus merangkap tugas sebagai penasihat, pembimbing, konselor, menyebarkan nilai budaya yang baik dan menjadi contoh yang baik dalam proses pembentukan kepribadian siswa. Ini memberikan implikasi bahwa guru bukan saja sebagai titian ilmu tetapi juga pembentuk peribadi siswa dengan menyemaikan sifat jujur, amanah, empati, rajin dan tidak pernah menyerah dalam mendidik (Grasha 1996; Mahathir 2005; Skovholt dan D’Rozario 2000).

Akhir-akhir ini media masa selalu saja memaparkan berita-berita kurang baik yang dapat memburukan imej profesi guru. Noriah et al. (2002) memaparkan beberapa contoh berkaitan dengan tingkah laku kurang beretika dan kurang bertanggungjawab di kalangan guru-guru di sekolah. Seperti guru menghukum dan mendenda murid secara keterlaluan, sehingga meninggalkan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis, mental dan fisik siswa. Media juga memaparkan tentang ketidakmampuan guru mengendalikan marah mereka sehingga sampai merusakan barang-barang aset sekolah, yang seharusnya dijaga dengan baik untuk kepentingan dan keperluan pendidikan (Berita Harian Agus 2004; Berita Harian 15 Agus 2005; Harian Metero 19 Mei 2005; Noriah 2003; The Sun Ogos 1999, Disember 1999; Utusan Malaysia 24 Februari 2004).

Selain paparan tentang keagresifan guru terhadap siswa, satu laporan media yang juga menggemparkan masyarakat adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar ditahan oleh polisi karena dicurigai sebagai agen dan pengedar obat terlarang di kawasan tempat dia mengajar (Harian Metro 17 Juni 2005). Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Malaysia tetapi juga terjadi di negara-negara membangun yang lainya. Sebagai contoh, media elektronik Indonesia juga memaparkan berita tentang seorang guru pensiunan telah memperkosa cucunya sendiri, dan kepala sekolah di sebuah sekolah sawasta telah memperkosa lima orang siswa di sekolahnya (SCTV Mei 2004). Tingkah laku sebagian kecil guru ini tentunya bisa memberikan imej yang kurang baik kepada profesinalisme guru. Justeru, tingkahlaku seperti itu bisa memburukan pandangan masyarakat terhadap profesi guru yang sepatutnya menjadi pendidik, pembimbing (role model) generasi muda yang sedang berkembang.

Kejadian seperti ini menunjukkan bahwa sebagian guru tidak dapat mengendalikan emosi mereka ketika berhadapan dengan berbagai tingkahlaku siswa di sekolah. Sehingga mereka melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan kecederaan fisik dan psikologis terhadap siswa. Sebagian siswa merasa takut untuk datang ke sekolah akibat kelakuan guru seperti itu. Pertanyaanya adalah; Adakah hal sebegini wajar dilakukan oleh seorang guru dalam mendidik siswanya? Apakah sebenarnya terjadi di kalangan guru-guru hari ini? Adakah mereka hanya cerdas secara intelektual ataupun dalam mata pelajaran yang mereka ajar, namun mereka kurang mahir dalam mengaplikasikan ilmu psikologi yang seharusnya menyatu dengan seorang pendidik? Rentetan pertanyan ini telah banyak dijawab oleh ahli-ahli psikologi, yang menyatakan bahwa para pendidik tidak cukup hanya dengan kecerdasan intelektual semata-mata, namun mereka perlu memiliki dan menerapkan keterampilan psikologis, sehingga mereka mudah untuk mendekati dan merobah tingkah laku siswanya. Salah satu contoh yang perlu dimiliki oleh guru-guru tersebut adalah “keterampilan kecerdasan emosi” yang didiskusikan dalam artikel ini.

Goleman (1995, 1999) mengemukakan satu konsep untuk menerangkan beberapa domain penting yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang. Penerangan konsep tersebut coba dipaparkan oleh Goleman berdasarkan faktor kegagalan dan keberhasilan seseorang dalam kehidupan peribadi dan juga karir mereka masing-masing. Goleman (1999) juga menyatakan bahwa kecerdasan emosi tersebut merupakan kemampuan individu untuk mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi sendiri dengan baik serta mampu membina hubungan yang harmonis dengan orang lain. Selanjutnya Goleman (1999) juga menyatakan individu yang kurang kemampuan mengendalikan emosinya, agak sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, kurang bisa menjalankan pekerjaan dengan baik. Menurut Goleman individu seperti ini juga bisa dikategorikan sebagai individu yang kurang berhasil dalam kerirnya. Peristiwa ataupun kejadian luapan emosi yang terjadi pada diri seseorang, baik ditempat kerja maupun di lingkungan sosial, bisa membawa implikasi kepada tahap kestabilan dan kematangan emosi individu bersangkutan (Goleman, 1999).

Artikel ini ini coba melihat keperluan kecerdasan emosi (EQ) di kalangan pendidik(guru-guru). Seperti disentuh sebelumnya perbincangan dilakukan berdasarkan fakta penelitian yang dilakukan terhadap guru-guru yang mengajar di Sekolah Menengah, berdasarkan lima domain kecerdasan emosi [kesadaran terhadap diri sendiri, kemampuan mengendalikan diri, motivasi, empati dan sosial skill] yang dikemukakan oleh Goleman (1995) dan dua domain tambahan iaitu [spritualitas dan kematangan] berdasarkan kajian Noriah et al (2004). Penulis coba memaparkan profil dan keperluan kecerdasan emosi (EQ) di kalangan guru-guru berdasarkan perspektif kedua konsep tersebut. Dari itu artikel ini coba menjawab dua persoalan berikut ini: (i) Bagaimanakah profil kecerdasan emosi (EQ) guru-guru yang dilibatkan dalam kajian ini? (ii) Bagaimanakah pandangan guru-guru tentang keperluan kecerdasan emosi (EQ) dalam dunia pendidikan?


B. Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi disebut juga dengan istilah EQ ataupun pintar secara emosi. Istilah emotional Intelligence diperkenalkan oleh John Mayer dan Peter Salovey dalam tahun 1990 yang kemudian menarik minat berbagai kalangan untuk melakukan penelitian setelah konsep EQ tersebut dipopulerkan oleh Goleman pada tahun 1995. Goleman (1999) mencadangkan bahawa EQ boleh dikaitkan dengan dua jenis kompetensi iaitu; kompetensi peribadi dan kompetensi sosial. Kedua kompetensi tersebut diwakili oleh lima domain seperti berikut: kesedaran terhadap diri sendiri (self-awareness), kemampuan mengendalikan diri (self-regulation), kemampuan untuk memotivasikan diri (self-motivation), empati (empathy), dan kemahiran bersosial (social skills).

Goleman memberikan ekplanasi bagi setiap domain EQ tersebut, iaitu (i) Kesadaran terhadap diri sendiri merupakan kemampuan individu untuk mengetahui perasaan sendiri, mampu menilai kekuatan dan kelemahan diri dan sadar dengan niat dalam diri. Domain ini merupakan basic atau prasyarat yang perlu ada sebelum domain-domain yang lain. (ii) Kemampuan mengendalikan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaan yang sedang bermain dalam dirinya, selalu jujur dan bertanggung jawab dalam melakukan sesuatu, fleksibel dengan perubahan dan mau menerima ide baru dari siapa saja tanpa diiringi dengan perasaan negatif. (iii) Motivasi merupakan kecenderungan emosi dalam membimbing seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Selalu bersemangat untuk mencapai keberhasilan, mempunyai komitmen yang tinggi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, mempunyai sikap proaktif dan senantiasa meraih peluang yang ada, serta senantiasa istiqamah dalam mewujudkan tujuan yang ditetapkan, walaupun terdapat pelbagai tantangan dalam mewujudkan tujuan tersebut. (iv) Empati pula merupakan kemampuan menyadari perasaan, keperluan dan kehendak, serta masalah yang dirasakan oleh orang lain. Mampu mengembangkan potensi orang lain, dan senantiasa berkeinginan untuk memenuhi keperluan orang lain. Kemampuan empati ini sangat penting dalam membentuk hubungan yang harmonis dengan orang lain, baik dalam organisasi maupun dalam masyarakat. Tanpa kemahiran empati, menurut Goleman (1995, 1999) agak sukar bagi seseorang untuk berhasil dalam melaksanakan domain kelima iaitu sosial skill. (v) Kemahiran sosial pula merupakan kemahiran mencetuskan respons yang dikehendaki dari orang lain. Menggunakan cara yang efektif untuk membujuk orang lain, mampu menerima dan menyampaikan pesan dengan penuh keyakinan dan mampu menyelesaikan konflik dengan baik.

Setelah dilakukan penelitian oleh pakar tempatan Noriah et al. (2002 hingga 2004), konsep EQ yang dikemukakan oleh Goleman tersebut akhirnya dilengkapi dengan dua domain baru yang sangat berperan dalam meningkatkan EQ individu tempatan. Dua domain tersebut adalah kerohanian (spirituality) dan kematangan (maturity). Kedua domain tersebut sesuai dengan budaya dan seting tempatan. Konsep ini diistilahkan dengan konsep “EQ Goleman-Noriah (2004)”. Domain kerohanian menggambarkan beberapa hal seperti keredhaan, rasa tanggungjawab kepada pencipta serta kemampuan menghayati nilai-nilai agama. Keredhaan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk menerima dengan hati yang tulus nilai-nilai yang digariskan oleh agama masing-masing. Peraturan-peraturan tersebut selalu dijadikan panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Rasa tanggungjawab terhadap pencipta membantu seseorang dalam melaksanakan tugas tanpa rasa bosan, karena melihat tugas tersebut sebagai salah satu jalan ibadah kepada-Nya. Seterusnya keadaan ini mampu memberikan semangat kepada individu untuk terus bekerja dengan penuh keikhlasan.

Domain kematangan pula menggambarkan aspek usia, pengalaman dan pengetahuan serta dampaknya terhadap EQ. Dari segi usia, didapati individu biasanya menjadi lebih matang apabila usianya bertambah. Kematangan ini digambarkan dengan kemampuan seseorang untuk mengendalikan tingkah lakunya apabila usianya terus meningkat. Peningkatan usia tersebut membantu dirinya untuk melakukan refleksi diri, melihat kelemahan dan kekuatan diri untuk dijadikan guru yang sangat berharga dalam meneruskan kehidupan. Penelitian Noriah et al (2004) mendapati bahawa pengalaman hidup berkorelasi positif, serta mempengaruhi EQ seseorang. Penelitian Noriah mendapati bahawa seseorang yang mempunyai pengalaman positif, dapat mengendalikan emosi dengan baik di tempat kerja, berbanding dengan individu yang kurang berpengalaman di dunia pekerjaan. Pengalaman juga boleh membantu seseorang belajar dan seterusnya menggunakan hasil pembelajaran tersebut apabila terjadi konflik dalam kehidupan, baik konflik dengan diri sendiri maupun konflik dengan orang lain. Kematangan seseorang juga dapat dilihat melalui kemampuannya untuk belajar dari pengalamannya. Dengan perkataan lain dirinya mampu menjadikan pengalaman itu sebagai contoh dan tauladan dalam menjalani kehidupan berikutnya. Secara terperinci, gambaran tentang konsep EQ Goleman-Noriah tersebut, seperti ditunjukkan pada diagran di bawah ini:


C. Metodologi Kajian

Kajian ini dijalankan menggunakan kaedah gabungan ”explanatory mixed methods desings”. Persoalan kajian pertama dijawab menggunakan pendekatan kuantitatif (Cross Sectional Survey Designs), dan persoalan kajian kedua dijawab menggunakan pendekatan kualitatif (case study). Penggabungan dua pendekatan ini membolehkan penulis mendapatkan data yang lebih komprehensif untuk tujuan mendapatkan gambaran tentang profil EQ dan juga keperluan EQ di kalangan pendidik (Creswell 2007; Wiersma 2000). Penggabungan dua pendekatan ini juga dapat memberikan gambaran yang lebih terperinci tentang masalah yang diteliti Creswell 2005; Mils & Airasian 2006; Creswell 2007).

Pada kajian survey (Cross Sectional Survey Designs), 174 orang guru yang bekerja di 11 buah sekolah menengah di kawasan Zon Tengah Semenanjung Malaysia (Perak, Selangor, Negeri Sembilan, Melaka dan Johor), telah mengambil bagian dalam kajian ini. Guru-guru tersebut dipilih secara acak melalui teknik simple random smpling. Data dikumpulkan menggunakan angket Malaysian Emotional Quoetient Inventory (MEQI) yang disusun oleh Noriah et al. (2004). Instrumen ini terdiri daripada 249 item menggunakan skala Likert, untuk mengukur tujuh domain kecerdasan emosi seperti diterangkan sebelum ini. Analisis kebolehpercayaan (Cronbach Alpha) untuk menentukan konsistensi instrumen adalah 0.98 (sangat tinggi). Seterusnya data yang diperolah dianalisis secara deskriptif berbantukan software Statistics Package for Social Science (SPSS) versi 11.5. Sedangkan untuk kajian studi kasus, kajian melibatkan 10 orang guru yang dipilih melalui kaedah ”porposive sampling” yaitu teknik pengambilan subjek kajian berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan dimaksudkan dalam kajian ini adalah guru yang dipilih diandaikan dapat memberikan data secara komprehensif tentang kajian ini. Dalam studi kasus ini data dikumpulkan melalui wawancara (indepth interview), seterusnya data yang didapatkan dianalisis secara thematic berbantukan software Nvivo 2.


D. Hasil Kajian

Bagian ini melaporkan hasil kajian yang disusun berdasarkan persoalan kajian. Seperti disentuh sebelum ini, penulisan arikel ini menjawab dua persoalan berikut; (i) Bagaimanakah profil kecerdasan emosi (EQ) guru-guru yang dilibatkan dalam kajian ini? (ii) Bagaimanakah pandangan guru-guru tentang keperluan kecerdasan emosi (EQ) dalam dunia pendidikan?

(i) Profil Kecerdasan Emosi (EQ) Guru-guru

Graf 1 di bawah ini menunjukkan profil kecerdasan emosi guru-guru yang mengambil bagian dalam kajian ini. Bentuk profil kecerdasan emosi guru-guru tersebut adalah tinggi pada domain spritualitas [Min=94.01] dan kematangan [Min=91.29], dan agak rendah pada domain lain, yaitu kesadaran terhadap diri sendiri [Min=72.91], kemampuan mengendalikan diri [Min=68.81], motivasi [Min=76.54], empati [Min=77.06], dan sosial skill [Min=70.40]. Berdasarkan EQ Index Interpretation yang dikemukakan oleh Noriah (2007), domain yang rendah tersebut boleh dianggap telah dimiliki oleh individu, namun domain itu masih belum konsisten dalam diri individu tersebut. Noriah menyatakan akan lebih baik apabila domain tersebut dapat ditingkatkan lagi. Tindakan tersebut akan lebih membantu guru-guru dalam mengembangkan potensi mereka untuk menjadi guru yang lebih profesional.

(ii)Pandangan guru-guru tentang keperluan kecerdasan emosi (EQ) dalam dunia pendidikan

Kajian ini menunjukkan secara umumnya guru-guru menyatakan bahawa keterampilan kecerdasan emosi (EQ) itu penting bagi mereka. Mereka menyatakan dengan keterampilan EQ mereka dapat menyadari dengan lebih mendalam tentang fungsi mereka sebagai seorang guru. Dalam kajian ini guru-guru tersebut menyatakan dengan istilah “role function” ataupun tahu dengan fungsi yang diemban. Berikut ini adalah pengalaman yang dinyatakan oleh guru-guru tersebut. Seperti dinyatakan oleh beberapa orang guru (Guru 2 dan Guru 1). Guru1 dan Guru2 menyatakan sebagai seorang guru mestilah menyadari bahwa dirinya adalah sebagai guru. Setiap perkataan, perbuatan dan tingkah laku guru menjadi perhatian dan contoh bagi orang lain, seperti yang dinyatakan dalam petikan di bawah ini:

Guru1: …sadar tentang peranan “role function” jadi kalau di rumah kita sedar peranan kita sebagai bapa/ibu, kalau dengan anak-anak kita dapat menyesuaikan hubungan bapa/ibu dengan anak. Bila berhadapan dengan rakan sekerja, tidak adalah hubungan itu antara bapa dengan anak lagi sebab ini antara rakan sekerja…ini menunjukkan kita sadar dengan peranan kita.

Guru2: Di sekolah kita pastikan dapat mengontrol diri sebaik, orang memandangkan kita sebagai seorang pendidik. Apa yang kita katakan, semua tindakan kita, senyum kita ikut prosedur yang dan standart sebab kita sebagai seorang model di sekolah.


Pandangan yang hampir sama juga dinyatakan oleh Guru5 bagaimana dirinya coba “menyedari” tentang peranannya sebagai seorang pendidik, bagi dirinya sadar dengan role function bermakna dapat memberikan komitmen sepenuhnya terhadap tanggungjawab yang telah diamanahkan. Yang paling menarik daripada pernyataan ini adalah dia mampu memperoleh keberhasilan dalam profesinya lebih cepat berbanding dengan teman-teman yang lain. Bagi dirinya sadar dengan role function menjadikan dirinya fokus dalam bidang dan karir yang digeluti, seperti mereka nyatakan dalam petikan interview berikut ini:

Guru5:…Jadi saya lihat dalam dunia pendidikan ini apakah tangga-tangga yang perlu saya perhatikan. So saya selalu mengkaji, saya tengok, apa yang diperlukan untuk menjadi seorang pendidik yang baik. O... rupanya tidak cukup hanya dengan mengajar mata pelajaran saja, perlu reserch, jadi saya fokus dengan bidang saya bukan dalam artian sebagai seorang tenaga pengajar di sekolah tetapi saya meletakan diri saya sebagai seorang pendidik.

Hasil kajian juga menunjukkan komponen penting yang lain dikongsikan oleh agar mereka sentiasa dapat memahami siswa mereka. Komponen-komponen tersebut adalah “perhatian terhadap siswa dan fleksibel bila berhadapan dengan siswa”. Pernyataan guru tentang perhatian disampaikan dengan istilah “perihatin, mendahulukan orang dan carring”. Seperti dinyatakan oleh Guru4, sebagai seorang guru dia selalu mengingatkan rekan sejawatnya untuk memperhatikan siswa yang berada di sekolah, ini menunjukkan bahwa sebagai seorang guru mestilah perhatian terhadap siswa. Guru8 juga menyatakan beliau coba memahami siswanya dengan cara mendahulukan kepentingan siswa tersebut. Bagi dirinya menjadi seorang guru tak obahnya menjadi seorang ayah yang sentiasa mendahulukan kepentingan orang-orang di bawah jagaannya, seperti dinyatakan pada petikan di bawah ini:

Guru4: …saya mintak kepada guru-guru agar diperhatikan ada tak siswa-siswa yang tidak makan pagi, yang miskin tidak makan pagi. Ada tak kita tengok siswa-siswa yang datang dengan pakaian yang tidak rapi, comok... Ada guru saya yang mengejar siswa dalam hutan untuk dibawa datang ke sekolah. Maknanya beginilah kita mendidik. Kita memanusiakan manusia mesti ada perhatian.

Guru8:... saya dahulukan kepentingan orang, saya rasa kita guru ini seperti bapak, kalau kita makan dulu anak kita kelaparan...ketika saya jadi ketua dulu ada banyak groups work, sebagaiannya grant tak ada... Jadi kalau mintak duit banyak dan pada rapat boleh agre kan, oklah, saya tidak dapatpun tak apalah... yang penting group saya dapat duluan.

Hasil kajian yang dipaparkan di atas menunjukkan pandangan guru-guru tentang kepentingan kecerdasan emosi bagi mereka dalam dunia pendidikan. Walaupun guru-guru menyatakan dalam redaksi yang berbeda, namun secara umumnya bahasa yang mereka gunakan menunjukkan persetujuan mereka tentang pentingnya kecerdasan emosi tersebut dalam dunia pendidikan.

E. Perbincangan dan Implikasi Kajian Dalam Dunia Pendidikan

Guru merupakan profesi yang sangat mulia berperan mendidik siswa ke arah yang lebih baik. Untuk membimbing, guru perlu memiliki ciri-ciri tersendiri yang mungkin tidak sama dengan profesi lain. Guru perlu mengusai ilmu dalam bidang kepakaranya dengan baik, dan guru juga perlu menguasai ilmu dan kemahiran mengenai kaedah yang boleh membuat suasana pengajaran yang lebih efektif (McNergney dan Herbert 1998; Mohd. Sani 2002; Kamarul Azmi & Ab. Halim 2008). Justeru, ciri kedua ini mengisyaratkan guru perlu kepada ilmu psikologi, agar tugas mendidik dapat dilaksanakan dengan lebih efektif.

Seperti disentuh sebelumnya guru yang baik adalah guru yang senatiasa membina keunggulan akhlak siswanya. Justeru, guru tidak hanya mementingkan nilai akademik siswa, tetapi mereka perlu mendidik secara seimbang (Tajul Arifin & Nor ’Aini Dan 2002; Kamarul Azmi & Ab. Halim 2008). Guru profesional senantiasa siap untuk meningkatkan kualitas dan prestasi diri melalui latihan profesionalisme (Tajul Arifin & Nor ’Aini Dan 2002; Rohaty 2002; Mohd. Sani, Izham & Jainabee 2008). Rohaty (2002) menggariskan beberapa ciri kepribadian guru untuk membantu mereka memanifestasikan cita-cita yang digariskan melalui tujuan pendidikan, seperti guru mestilah bersikap ramah, boleh humor, memiliki sifat empati, suka belajar, amanah, bertanggungjawab dan mempertahankan etika profesi. Bila dikaitkan dengan kajian-kajian psikologi (Goleman 1995,1999; Skovholt & D'rozario 2000; Mohd Najib 2000; Noriah et al. 2001; Ary Ginanjar 2005; Zuria & Noriah 2003, Noriah & Siti Rahayah 2003; Noriah,Syed Najmuddin & Syafrimen 2003; Wan Ashibah 2004; Syafrimen 2004; Noriah et al. 2004; Syed Najmuddin 2005 & Zurinah 2007) menunjukkan kemahiran guru dalam aspek psikologi, seperti kemahiran EQ perlu ditingkatkan untuk tujuan memperkukuhkan ciri-ciri yang disebutkan itu. Kemahiran EQ dimaksudkan adalah seperti kesadaran guru terhadap diri sendiri, kemampuan guru mengendalikan diri, selalu memotikan diri, empati, memiliki cara bersosial yang baik, memiliki kekuatan spritual dan selalu belajar melalui pengalaman yang disebut dengan istilah kematangan.

Menurut Dadang Hawari (2003) pendidik yang memiliki EQ yang tinggi mampu mengendalikan diri dengan baik, sabar dalam mendidik, tekun, tidak mudah bertindak secara agresif apa lagi sampai mencederakan siswa, serta senantiasa berfikiran positif dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurut beliau untuk memperoleh EQ yang tinggi individu sepatutnya mendapatkan bimbingan semenjak dari awal lagi, cara yang paling sederhana adalah melalui contoh tauladan yang ditunjukkan oleh ibubapak di rumah. Ketika memasuki alam persekolahan, murid dan siswa banyak menghabiskanwaktunya di sekolah, untuk itu guru-guru sepatutnya tidak hanya pandai memindahkan ilmu pengetahuan tetapi juga dapat memberikan contoh tauladan yang baik kepada murid-murid dan siswa-siswa mereka (Tajul Ariffin & Nor’Aini Dan 2002; Kamarul Azmi & Ab. Halim 2008). Justeru guru memiliki EQ yang tinggi senantiasa dapat mengontrol tingkah laku yang kemungkinan merugikan diri sendiri dan juga orang lain (Dadang Hawari 2003; Noriah, Syed Najmuddin & Syafrimen 2003; Syed Najmuddin 2005).

Al-Ghazali cuba mengelompokan manusia kepada empat kelompok besar, dalam penulisan ini dikaitkan dengan skenario sebagai seorang pendidik. Pertama, adalah ”guru yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu”. Menurut Ghazali individu seperti ini memang sesuai memilih profesi sebagai seorang guru. Kedua, ”guru yang tidak tahu, dan tahu kalau dirinya tidak tahu”. Menurut beliau ini adalah menunjukkan kepribadian guru yang arif. Guru seperti ini mempunyai peluang untuk menjadi seorang guru yang baik, karena senantiasa mau belajar hal yang tidak diketahui. Ketiga, guru yang tahu tetapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu”. Guru seperti ini perlu diingatkan bahwa dirinya mempunyai petensi yang baik yang bisa dimanfaatkan untuk mendidik dengan lebih efektif. Guru seperti ini biasanya memerlukan dukungan dari lingkunganya agar dapat menggunakan potensi yang dimiliki sepenuhnya. Keempat, ”guru yang tidak tahu tetapi dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu” ini adalah kategori guru yang egois yang senantiasa melihat dirinya sebagai seorang yang hebat, tidak mahu menerima pandangan orang lain, dan tidak tahu dengan kekurangan yang ada dalam dirinya. Guru pertama dan kedua merupakan ciri-ciri guru yang memiliki EQ yang tinggi. Guru ketiga adalah guru yang telah memiliki ciri EQ tetapi masih memerlukan latihan agar mereka dapat mengenal dengan baik ptensi yang dimiliki dalam dirinya. Sedangkan guru keempat adalah guru yang menunjukkan ciri EQ yang rendah, sekiranya tidak disadarkan, kemungkinan kelompok guru seperti ini tidak dapat menyumbang secara maksimum dalam profesi mereka sebagai seorang pendidik (Noriah, Siti Rahayah 2008).

Kajian ini menunjukkan terdapat dua domain EQ (spritualitas & kematangan) yang memperoleh skor yang tinggi, dari tujuh domain EQ seperti yang disebutkan sebelum ini. Ini menggambarkan bahwa masih terdapat domain-domain yang perlu diberikan perhatian di kalangan guru-guru, karena domain tersebut merupakan domain penting yang mesti dimiliki oleh seorang guru (Wan Mohd Zahid 1993; Tajul Ariffin & Nor’Aini Dan 2002; Rohaty 2002; Abd. Rahman 2002; Noriah 2004 et al.; Kamarul Azmi & Ab. Halim 2008). Domain-domain tersebut adalah kesadaran terhadap diri sendiri, kemampuan mengendalikan diri, motivasi, emapti dan sosial skill. Secara tidak langsung kajian ini menggambarkan masih terdapat pada sebagian guru yang belum mengamalkan sepenuhnya etika kerja profesi yang menjadi pilihan mereka. Pertanyaan yang boleh dimunculkan adalah, apakah yang akan terjadi sekiranya guru kurang menyadari bahwa dirinya adalah sebagai seorang guru? Apakah yang akan terjadi sekiranya guru kurang memiliki rasa empati, dan sebagainya... dan seterusnya? Kamarul Azmi & Ab. Halim (2008) menyatakan bahwa guru perlu berusaha meletakan diri mereka pada kedudukan yang lebih baik dan terhormat di kalangan siswa, ini karana guru tersebut merupakan contoh tauladan, bukan hanya kepada siswa mereka, malah kepada ibubapak dan masyarakat sekelilingya (Tajul Ariffin & Nor’Aini Dan 2002). Supaya guru-guru dapat bertindak seperti itu, komponen-komponen EQ dapat membantu mereka. Untuk memastikan mereka dapat memahami kepentingan komponen EQ tersebut, Justru latihan secara berkesinambungan perlu dilakukan oleh guru-guru tersebut.


Rujukan

Creswell, J. W. 2005. Research design: qualitative and quantitave approaches. Thousand Oaks: SAGE Publication.

Creswell, J. W. 2007. Research design: qualitative and quantitave approaches. Thousand Oaks: SAGE Publication.

Ginanjar, A. A., 2005. Rahasia sukses membangun kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ); the ESQ way 165, New Edition. Jakarta: Arga.

Goleman. D. 1995. Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: Bantam Books.

Goleman. D. 1999. Working with emotional intelligence. New York: Bantam Books.

Hawari, D. 2003. IQ, EQ, CQ & SQ. Kriteria sumber daya manusia (pemimpin) berkualaitas. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kamarul Azmi, J. & Ab. Halim, T. 2008. Pendidikan islam kaedah pengajaran dan pembelajaran. Johor: Universiti Teknologi Malaysia.

Mcnergney, R.F. & Herbert, J.M. 1998. Foundation of Education. USA; Allyn & Bacon.

Mohd. Sani Ibrahim. 2002. Etika perkhidmatan guru. Selangor: Fakulti Pendidikan, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Mok Soon,S. 1992. Panduan latihan UKELP bahagian am. Kuala Lumpur: Kumpulan Budiman. SDN. BHD.

Noriah, M.I., Ramlee, M. & Norehah, K. (2002). Personality profile of technical and non-technical students. International Journal of Vocational Education and Training, 10(2), 61-72.

Noriah M.I, Zuria Mahmud. 2003. Kepintaran Emosi di Kalangan Pekerja di Malaysia. Prosiding IRPA- RMK-8 Kategori EAR. Jilid 1: 184-187.

Noriah et al. 2004. Manual Iventori Kecerdasan Emosi Malaysia, IKEM (D). versi 2. Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Rohaty, M. 2002. Identiti guru; Isu cabaran dan halatuju. Kertas Kerja Prosiding Seminar Profesion perguruan. Selangor: Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Skovholt, T. & D’Rozario, V. 2000. Portraits of outstanding and inadequate teachers in Singapore: The impact of emotional intelligence. Teaching and Learning. 21(1): 9-17.

Syafrimen. 2004. Profil kecerdasan emosi guru-guru sekolah menengah Zon Tengan Semenanjung Malaysia. Kertas Projek Sarjana. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Syed Najmuddin, S. H. 2005. Hubungan antara faktor kecerdasan emosi,nilai kerja dan prestasi kerja di kalangan guru Maktab Rendah Sains Mara. Tesis Doktor Falsafah. Universiti Kebangsaan malaysia.

Tajul Ariffin Noordi dan Nor’ Aini Dan. 2002. Pendidikan & pembangunan manusia: pendidikan bersepadu. Bandar Baru Bangi: As-Syabab Media.

Wan Ashiba. 2003. Kecerdasan emosi di kalangan guru sekolah menenga berasrama penuh dan sekolah harian. Kertas projek Sarjana. Universiti Kebangsaan malaysia.

Wiersma, W.2000. Research metodh in education: an introduction. Needham Heights: Allyn and Bacon.

Zurinah, I. 2005. Profil kepintaran emosi dalam kalangan guru pelatih. Kertas kerja yang dibentangkan dalam Seminar Pendidikan Khas, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi.

1 comment:

  1. Salam,

    I'm Junaidah, student of psychology industry and organization.. I really interested with this research..I also doing the same research about EI toward OCB and affective commitment in orgnization..could I get your full report about this finding soft copy form for academic purpose..feel free to email me at jundi2390@gmail.com...thanks for your cooperation..

    ReplyDelete