Saturday, April 10, 2010

Pembinaan Sifat Empati

Pembinaan Sifat Empati di Kalangan Pendidik

Dr. Syafrimen, M. Ed
syafrimens@yahoo.com
Lecturer faculty of Education
Institute for Islamic Studies "Raden Intan” Lampung, Indonesia


ABSTRAK

Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan cara pembinaan sifat empati di kalangan guru-guru (pendidik). Perbincangan artikel ini dibuat berdasarkan konsep empati yang dikemukakan oleh Goleman-Noriah et al. (2004) yang menyentuh aspek “memahami orang lain, dan mengembangkan potensi orang lain”. Case study “multi-case single-site case study design” digunakan sebagai metodologi kajian. Teknik wawancara secara individu (n=8) dan wawancara berkelompok (n=24) kepada pakar-pakar psikologi digunakan sebagai kaedah pengumpulan data. Data-data yang diperolehi dianalisis secara tematik berbantukan software NVivo 7. Hasil kajian menunjukkan terdapat kaedah tertentu untuk pembinaan masing-masing domain empati tersebut. Cara pembinaan memahami orang lain adalah [memberikan perhatian, bertoleransi dan merendahkan ego, fleksibel dengan orang lain]. Sedangkan cara pembinaan mengembangkan potensi orang lain adalah [memberikan dukungan dan galakan, membukakan peluang, dan memberikan kesadaran]. Hasil kajian ini didiskusikan berdasarkan hasil-hasil kajian sebelumnya dan juga artikel-artikel yang berkaitan dengan kajian ini.


Kata kunci: Pembinaan, sifat empati, guru-guru.

A. Pendahuluan

Profesi sebagai guru merupakan profesi yang sangat mulia. Bagaimanapun, kemuliaan pfesionalisme guru tersebut tergantung kepada sikap mereka terhadap profesi itu. Sebagai seorang pendidik guru mestilah mampu menjadikan dirinya sebagai contoh yang baik kepada siswa, selalu melakukan rekfleksi terhadap diri sendiri, berakhlak mulia dan memiliki sifat empati yang tinggi (Parson & Stephenshon 2005). Dalam Islam tugas sebagai guru merupakan perpanjangan tangan terhadap pendidikan yang dilakukan oleh rasullah s.aw. Justeru, kunci keberhasilan rasulullah dalam mendidik adalah menjadikan dirinya sebagai contoh utama kepada umat yang dibimbingnya. Kenyataan ini diabadikan dalam Q.S. al-Ahzab; 21 seperti berikut ini:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut nama Allah (Q.S. al-Ahzab; 21).

Hasil penelitian Skovholt dan Rozario dalam Syed Najmuddin (2005) menunjukkan guru-guru yang mempunyai sifat empati dan sosial skill yang tinggi, lebih disenangi oleh siswa ketimbang guru-guru yang tidak memiliki sifat tersebut. Menurut mereka guru-guru yang memiliki sifat empati dan sosial skill tersebut lebih mudah memahami siswa, sehingga siswa merasa lebih nyaman dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan pendapat tersebut Ary Ginanjar (2005) juga menyatakan sifat empati sangat penting dalam meraih sukses, baik dalam dunia bisnis maupun dunia pendidikan. Menurut Ary Ginanjar permasalahan yang sering dihadapi oleh pekerja hari ini adalah masalah komitmen, empati, integritas, motivasi, kreativitas dan mengekalkan semangat bekerja. Ary Ginanjar juga menyatakan, membina keterampilan teknis adalah lebih mudah ketimbang keterampilan tersebut, karena keterampilan itu berkaitan dengan sifat-sifat internal seseorang.

Terdapat beberapa pandangan yang menyatakan bahawa sifat empati bisa dibina (Bagsaw 2000; Dulewicz & Higghs 2004; Matthews, Roberts & Zeidner 2003; Patricia & Finian 2003). Bagaimanapun, sejauhmana sifat tersebut dapat dibina masih menjadi perdebatan (Cooper, 1997; Goleman, 1996, 1998; Higgh and Dulewicz, 1999 & Martinez, 1997). Goleman (1999) menyatakan pembinaan kompetensi empati berbeda dengan pembinaan intelektual. Goleman menyatakan kemampuan kognitif individu relatif tidak berubah, berbeda dengan sifat empati yang bisa dipelajari dan ditingkatkan sepanjang kehidupan. Bagaimanapun, persoalannya adalah “Apakah bentuk latihan yang sesuai untuk membina sifat empati seseorang?”. Menurut Ary Ginanjar (2005) kebanyakan pelatihan yang dilakukan hanya memberikan dampak sesaat, sehingga pelatihan tersebut berdampak terhadap perubahan sikap seseorang. Menurut Ary Ginanjar (2005) seseorang perlu melakukan latihan secara berkesinambungan (continuosly improvement) sehingga membentuk satu keperibadian yang mempunyai sifat empati yang tinggi.

Noriah (2004) menyatakan terdapat sebagian guru yang bersikap agresif terhadap siswa di sekolah. Tingkahlaku agresif sebagian guru itu tidak hanya memburukkan peribadi guru tersebut, tetapi juga memburukan imej profesi guru secara keseluruhan. Kenapa hal bisa terjadi? Apakah mereka tidak lagi menghayati tugas mereka sebenarnya? Bukankah guru-guru itu seharusnya berempati terhadap siswa dan profesinya? Goleman dalam Noriah (2005) menyatakan bahawa;

...cognitive intelligence may provide some individuals entry into particulas (work) setting, however emotional intelligence “empathy” could play a vital role in determining how successful they will be after entering the work setting .

Beberapa hasil penelitian di luar dan di dalam negri mendapati bahawa terdapat kepentingan empati di samping kecerdasan intelektual (IQ) di kalangan pendidik (Ary Ginanjar 2003; Goleman 1995, 1999; Mohd Najib 2000; Noriah et al 2001; Noriah dan Siti Rahayah 2003; Noriah, Syed Najmuddin & Syafrimen 2003; Noriah et al. 2004; Skovholt & D'rozario 2000; Syafrimen 2004; Syed Najmuddin 2005; Wan Ashibah 2004; Zuria & Noriah 2003). Untuk itu, penting bagi guru-guru memiliki keterampilan tersebut. Latihan berkaitan dengan empati tersebut perlu diberikan sewaktu mempersiapkan tenaga pendidik. Justeru, artikel ini coba memaparkan satu hasil penelitian tentang cara-cara bagaimana latihan pembinaan empati itu dilakukan. Secara spesifik artikel ini coba menjawab pertanyaan berikut ini: “Bagaimanakah pandangan pakar untuk pembinaan sifat empati di kalangan guru-guru?


B. Literatur Tentang Empati

Sifat empati merupakan kemampuan seseorang untuk menyadari perasaan, kepentingan atau kehendak, masalah atau keperitan (concern) yang dirasakan oleh orang lain. Justeru, individu yang memiliki sifat empati tersebut senantiasa dapat mamahami perasaan orang lain dari perspektif mereka, mampu mengembangkan potensi orang lain, senantiasa berkeinginan untuk memenuhi kepentingan orang lain, dan mampu memahami perasaan kelompok serta pemegang kekuasaan dalam sebuah organisasi. Corey dan Corey (1997) menyatakan bahawa individu yang memiliki sifat empati mampu menyelami perasaan seseorang dan mampu melihat dunia orang lain dari perspektif mereka. Rogers dalam Corey, Corey & Callahan (1998) juga menyatakan seseorang yang menunjukkan sifat empati lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam proses membantu seseorang.

Stein dan Book dalam bukunya Emotional Intelligence and Your Success (2000) memberikan pandangan tentang empati iaitu kemampuan untuk menyadari, memahami dan menghargai perasaan serta fikiran orang lain. dalam laras bahasa yang agak berbeda beliau juga mengemukakan, empati adalah “menyelaraskan diri” perhatian terhadap apa, bagaimana, serta memahami latarbelakang perasaan serta fikiran orang lain, sebagaimana orang tersebut merasakan dan memikirkannya. Menurut beliau individu yang mempunyai sifat empati yang tinggi mampu memahami orang lain daripada persepektif individu itu, sangat peduli serta memperlihatkan keinginan dan perhatian yang tinggi terhadap orang terebut.

Khairul ummah et al (2003) menggambarkan sifat empati dengan istilah “peka, peduli, positif, dan partisipatif”. Sifat peka, peduli dan partisipatif menggambarkan tentang perhatian seseorang terhadap perubahan dan keadaan emosi orang lain. Seseorang yang memiliki kepekaan yang tinggi dapat merasakan kesulitan orang lain, seolah-olah ia sendiri yang merasakanya. Individu tersebut mampu memberikan solusi yang terbaik kepada orang yang menghadapi masalah tersebut. sedangkan sifat positif menggambarkan tentang kemampuan seseorang untuk selalu berusaha berbicara secara positif dan menghindari kalimat negatif. Goleman-Noriah et al (2004) memasukan sifat empati ke dalam kompetensi sosial dalam konsep EQ yang mereka kemukakan. Kompetensi sosial tersebut menggambarkan tentang kemampuan seseorang untuk dapat berinteraksi dengan orang lain secara baik. Bentuk interaksi dimaksudkan baik secara secara langsung maupun tidak langsung. Seperti yang disentuh sebelum ini domain empati yang disentuh dalam artikel ini adalah “memahami orang lain, dan mengembangkan potensi orang lain. Memahami orang lain (understanding others) merupakan kemampuan seseorang dalam menditeksi perasaan orang lain dari perspektif orang tersebut. Seterusnya menunjukkan hasrat untuk membantu masalah yang dihadapi oleh orang itu. Individu ini juga senantiasa mau mendengar secara aktif tentang apa saja yang diceritakan oleh seseorang. Mengembangkan potensi orang lain (developing others) merupakan kemampuan seseorang dalam menditeksi potensi yang dimiliki oleh seseorang dan berkebolehan untuk mengembangkan potensi tersebut, walaupun orang itu tidak menyadari bahwa dirinya memiliki potensi yang bisa untuk dikembangkan. Seseorang yang memiliki sifat ini mau mengakui dan memberi ganjaran terhadap kemampuan dan keberhasilan yang diperolehi oleh orang lain. Dia juga senantiasa memberikan respon terhadap suatu kelebihan yang dimiliki oleh seseorang. Dirinya selalu siap menjadi pembimbing dalam rangka membantu mengembangkan potensi individu (Goleman, Boyatzis & McKee 2002).


C. Metodologi Kajian

Kajian dijalankan menggunakan pendekatan case study (multi-case single-site case study design). Multi case merujuk kepada beberapa orang sumber data yang akan memberikan data dalam kajian ini, sedangkan multi site merujuk kepada beberapa tempat di mana orang-orang yang membrikan data itu berada. Penggunaan pendekatan Case study ini membolehkan penulis meneliti pola sesuatu fenomena yang ingin dikaji (Yin 1994; Creswell 2007; Majid Konting 2005; Sidek Modh Noah 2002). Penulis menilai pemilihan pendekatan ini sangat sesuai, karena kajian ini coba melihat pola cara pembinaan ataupun internalisasi sifat tertentu ke dalam diri seseorang. Dalam hal ini penulis coba melihat cara pembinaan ataupun internalisasi sifat empati di kalangan guru-guru (pendidik). 32 orang pakar psikologi telah dipilih sebagai subjek kajian. Data dikumpulkan melalui wawancara secara individu dan kelompok. Delapan orang pakar dilibatkan dalam wawancara secara individu, dan 24 orang dilibatkan dalam wawancara berkelompok. Setelah semua data terkumpul melalui wawancara secara individu maupun wawancara berkelompok, selanjutnya proses transkripsi dan analisis dilakukan secara tematik berbatukan software NVIVO 7.

D. Pandangan Pakar Untuk Pembinaan Sifat Empati

Bagian ini memaparkan hasil kajian, seperti disentuh sebelum ini, penulisan arikel ini menjawab persoalan “Bagaimanakah pandangan pakar untuk pembinaan sifat empati di kalangan guru-guru? Pembinaan sifat empati dimaksudkan dalam kajian ini merujuk kepada “memahami orang lain, dan mengembangkan potensi orang lain” seperti didiskusikan sebelum ini. Berikut ini dipaparkan pandangan pakar (hasil kajian) tentang cara pembinaan kedua kompetensi tersebut.

Hasil kajian di atas menunjukkan terdapat tiga kaedah yang disampaikan oleh pakar agar dalam pembinaan memahami orang lain. Ketiga-tiga kaedah tersebut adalah; (i) perhatian terhadap orang lain, (ii) bertoleransi dan merendahkan ego, serta (iii) fleksibel ketika berhadapan dengan seseorang. Perhatian terhadap orang lain merujuk kepada pembinaan terhadap seseorang supaya dapat merasakan keadaan yang sedang dirasakan oleh orang lain. Bertoleransi dan merendahkan ego pula merujuk kepada pembinaan terhadap seseorang supaya ianya kebolehan untuk mengalah demi menghargai perasaan orang lain. Sedangkan pembinaan cara memahami orang lain melalui kaedah fleksibel pula merujuk kepada pembinaan terhadap seseorang supaya sanggup menerima orang lain dalam pelbagai keadaan. Bila dilihat kepada parsentase pakar menyatakan pandangan mereka didapati parsentasi tertinggi pada kaedah perhatian terhadap orang lain (80%), dikiuti oleh bertoleransi dan merendahkan ego (50%) serta fleksibel terhadap seseorang (50%). Hasil kajian ini menunjukkan ketiga kaedah tersebut merupakan kaedah penting dalam pembinaan memahami orang lain.

Perkongsian pakar tentang ketiga kaedah tersebut secara detil dapat dilihat pada petikan-petikan hasil wawancara di bawah ini. Pertama adalah memahami orang lain dengan cara “perhatian terhadap orang lain” tersebut. Pandangan pakar tentang perhatian terhadap orang lain itu disampaikan dalam pelbagai pernyataan, seperti “perihatiann, mendahulukan orang dan carring”. Seperti disampaikan oleh salah seorang pakar P2 yang menyatakan sebagai seorang ketua beliau selalu memastikan orang-orang di bawahnya untuk memperhatikan siswa yang berada di sekolah, ini menunjukkan sebagai seorang guru mestilah perhatian terhadap pelajar. P4 pula menyatakan beliau coba memahami orang lain dengan cara mendahulukan kepentingan orang tersebut. menurut beliau menjadi seorang ketua tidak ubahnya seperti seorang ayah yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang-orang di bawah jagaannya, seperti dinyatakan pada petikan berikut ini:

P2: …saya mintak kepada guru-guru agar diperhatikan ada tak pelajar-pelajar yang tidak makan pagi, yang miskin tidak makan pagi. Ada tak kita tengok kanak-kanak yang datang dengan pakaian yang tidak rapi, comok... Maknanya begitulah kita mendidik, kita memanusiakan manusia mesti perhatian.

P4: ... saya akan dulukan orang, kita ketua ini tak ubahnya seperti seorang bapak, kalau kita makan dulu anak kita kelaparan... seperti ketika saya menjadi ketua jurusan dulu, ada banyak reserch groups, sebagianya tak ada reserch grant... Jadi kalau mintak duit dalam rapat…, oklah, saya tidak dapatpun tak apalah...

Pandangan yang hampir sama disampaikan oleh juga P8, iaitu dirinya mendahulukan kepentingan orang lain terlebih dahulu sekiranya menurut pandanganya orang tersebut lebih membutuhkankan dari dirinya di saat itu. Pandangan tersebut dikukuhkan oleh P7 yang menyatakan istilah perhatian terhadap orang lain dengan istilah carring. P7 mencontohkan pandangannya dalam dunia pendidikan, menurut P7 untuk menjadi seorang pendidik harus mampu menjadi seorang ayah ataupun ibu kepada siswa, seperti dinyatakan pada petikan di bawah ini:

TBI8: …contoh adik saya telepon minta bantuanduit karena dia amergency perlukan duit, dia minta pinjam dulu. Jadi saya rasa pada ketika itu walaupun saya ada keperluan pribadi tapi saya memikirkan keperluan dia amat genting, jadi saya akan berikan duit saya pada dia waktu itu...

TBI7: …sebelum kita menjadi guru kita mesti menjadi ayah kepada siswa kita. Maknanya kita tak boleh jadi guru melainkan ada sifat seorang ayah, kalau perempuan seorang ibu baru bisa jadi guru …bila kita ada dua sifat itu akan timbul sifat mengandungi “carring dan adil”. … Kalau seseorang tak ada sifat keibubapakan tak akan bisa carring.

Kaedah berikutnya yang dinyatakan oleh pakar dalam memahami orang lain adalah dengan cara “bertoleransi dan merendahkan ego”. Pakar P2 menyatakan dirinya lebih mudah mengalah apabila berhadapan dengan orang lain, dalam konteks sebagai seorang pegawai dia mencontohkan hubungan dirinya dengan guru-guru. Pandangan tersebut dikukuhkan lagi oleh P1 yang menyatakan untuk memahami orang lain adalah dengan cara “lebih sensitive” terhadap perasaan orang lain. Menurutnya keadaan sedemikian dapat menyuburkan rasa empati terhadap orang lain. Petikan pandangan pakar tersebut seperti ditunjukkan di bawah ini:

FG2: Saya sendiri sebenarnya lebih mudah mengalah... kalau ada diantara guru-guru menceritakan kelemahan saya, saya katakan is ok, saya terbuka. Saya pernah memberikan angket untuk diri saya... jadi saya mengakui di mana kelemahan saya...




TBI1: …kesediaan untuk memahami perasaan orang lain, sensitif dengan perasaan orang lain. Saya ingat itu perlu bersamanya dengan merendahkan ego. Kalau kita ada ego yang tinggi, kita tak mau memamahami perasaan orang lain. ...merendah ego kita dan bersifat ingin memberikan kebaikan kepada orang lain, jadi itu akan membantu menyuburkan sifat empati.

Satu lagi pandangan yang dinyatakan oleh pakar dalam memahami orang lain adalah melalui kaedah “fleksibel terhadap seseorang” yaitu dapat menerima orang lain dalam pelbagai keadaan. Seperti dinyatakan oleh P2, sebagai seorang pegawai dirinya tidak terlalu banyak birokrasi. Dalam konteks ini dia mencontohkan dirinya sebagai seorang pegawai yang senantiasa harmonis dengan pegawai-pegawai lain dalam pelbagai kedaan. P8 pula mencontohkan pandnganya dalam bentuk kehidupan berkeluarga, seperti dinyatakan pada petikan wawancara berikut ini:

P2: Saya birokrasi saya kurang, saya banyak berada di ruangan guru, di kantin dan di mana-mana saya akan bercerita. Saya tidak ada masalah makan bersama dengan guru-guru, duduk di ruangan guru. Ini memudahkan saya untuk berinteraksi dan menyelesaikan masalah dengan guru-guru saya...

P8: … contohnya anak-anak saya, dia membutuhkan waktu untuk makan bersama saya, sedangkan pada waktu itu saya mau segera pergi ke tempat lain seperti office contohnya. Jadi waktu itu saya akan beri tahu pada anak-anak saya, jam sekian saya mesti berada di sana. Jadi makan nanti mungkin saya tidak sempat bersama, kalau sempat mungkin saya akan makan bersama, so bagaimana? Dia kata ok... ok. Tapi kalau dia kata tidak, saya akan usahakan juga makan dengan dia sedikit, habis itu saya bilang dengan dia, saya terpaksa minta pergi dulu karena ada program penting yang mesti dilaksanakan. Itu saya lakukan dengan anak sebab waktu mereka dengan saya terlalu pendek.

Gambaran di bawah ini pula memaparkan pandangan pakar tentang kaedah ataupun cara pembinaan “mengembangkan potensi orang lain”. Mengembangkan potensi orang lain merujuk kepada bagaimana seseorang itu melihat potensi dan kekuatan yang ada pada diri seseorang untuk dikembangkan sehingga bisa membawa orang tersebut kepada keberhasilan. Hasil kajian juga menunjukkan, terdapat tiga kaedah yang dinyatakan oleh pakar untuk pembinaan mengembangkan potensi orang lain. Ketiga kaedah tersebut adalah; (i) memberi sokongan dan galakan, (ii) memberikan peluang, dan (iii) memberikan kesadaran. Memberi sokongan merujuk kepada kemampuan seseorang untuk memberikan dorongan, ganjaran dan memberikan penghargaan terhadap potensi yang dimiliki seseorang. Memberikan peluang pula merujuk kepada kemampuan individu untuk mencarikan peluang ataupun jalan kepada orang lain, untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Sedangkan memberikan kesadaran pula merujuk kepada kemampuan seseorang untuk memberikan kesadaran kepada orang lain, untuk menyampaikan bahwa orang itu mempunyai potensi untuk dapat hidup lebih berhasil dari apa yang didapatkannya saat ini.

Bila dilihat kepada parsentase pakar menyatakan pandangan mereka tentang ketiga kaedah tersebut, didapati parsentase tertinggi adalah pada kaedah beri sokongan dan galakan (80%), memberikan peluang (80%) dan memberikan kesadaran (60%). Ini menunjukkan bahwa ketiga kaedah tersebut merupakan kaedah penting dan senatiasa dipraktekan pakar dalam mengembangkan potensi orang lain. Pandangan pakar tentang ketiga kaedah itu, secara detil dapat dilihat pada petikan hasil wawancara berikut ini. Pertama adalah mengembangkan potensi orang lain dengan cara “memberi sokongan dan galakan”. Seperti dinyatakan P2, sebagai seorang pemimpin di sekolah dia senantiasa memperhatikan individu-individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Tidak cukup hanya dengan memperhatikan, dia juga senantiasa memberikan galakan kepada individu tersebut supaya dapat melakukan yang terbaik, agar dirinya lebih berhasil dari sekarang ini. Pandangan yang sama juga disampaikan oleh P1 dan P7 yang senantiasa coba membantu orang lain dengan cara berbagi pengalaman kepada orang tersebut. Menurut pandangan P1 keberhasilan adalah untuk semua orang dan tidak ada yang perlu dirahasiakan, sekiranya dirinya memiliki kelebihan yang bisa dishering dengan orang lain, dia akan melakukan hal tersebut secara terbuka. P7 pula menyatakan untuk membantu orang lain, kadang-kadang dia terpaksa push sehingga orang tersebut dapat melihat kekuatan yang dimiliki dalam dirinya. Menurut dia hal ini sangat penting, karena apabila seseorang telah nampak potensi dirinya, senang untuk bergerak ke depan. Pandangan kedua orang pakar tersebut dapat dilihat pada petikan di bawah ini:

P2: Beri sokongan dan galakan, di sekolah saya ada beberapa orang... saya sampaikan dengan mereka, bapak/ibuk tunjukan yang terbaik, saya tahu bahwa bapak/ibuk memiliki potensi. Buatlah yang terbaik, dan saya memang senantiasa menyampaikan bila ada guru-guru saya yang mempunyai potensi.

P1: ...Misalnya teman sama kerja yang berminat dalam satu bidang, saya coba membantu dari segi pengalaman yang ada. Misalnya saya memberikan ceramah kepada dosen-dosen baru, bagaimana bisa menjadi seorang pakar? Tanpa menyimpan rahasia apapun saya shering bersama. Saya ingin mereka bisa berhasil dalam bidang masing-masing.

P7: ... Kadang sampai kita push dia, dia tidak nampak lagi, bila sudah nampak tu... alhamdulillah. Biasanya kelompok yang seperti ini saya akan bertemu secara personal....

Satu lagi cara yang dilakukan oleh pakar untuk mengembangkan potensi orang lain adalah dengan cara “memberikan peluang” kepada orang tersebut. Memberikan peluang kepada orang lain dinyatakan dalam pelbagai pernyataan, seperti “memberikan pekerjaan untuk dijalankan, memberikan pekerjaan yang banyak, mengajak bekerja bersama-sama dan senang melihat orang lain berhasil”. Seperti dinyatakan oleh P1 dan P4. P1 menceritakan penglamanya bahwa dia coba mengembangkan potensi orang-orang lain dengan cara memberikan pekerjaan untuk disiapkan. P4 pula menyatakan untuk mengembangkan potensi orang lain kebiasaanya dia memberikan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih menantang kepada orang tersebut, seperti dinyatakan pada petikan berikut ini:

P1: ...masing-masing guru saya berikan satu pekerjaan, jadi dia akan mengendalikan masing-masing pekerjaan. Agar pekerjaan dia diikuti oleh orang lain, maka dia perlu mengikuti pekerjaan-pekerjaan yang dianjurkan oleh guru yang lain...

P4: ...biasanya kalau dalam bidang saya, saya coba memberikan dia lebih banyak pekerjaan. Kalau bukan bidang saya ... biasanya saya akan berikan dia tugas yang lebih menantang yang bisa menonjolkan bakat dia. ...tapi yang lemah-lemah inipun perlu ditolong juga, berikan dia peluang jugalah dan mereka perlu diberi perhatian juga...

Pandangan hampir sama juga dinyatakan oleh P6 dan P8 yang menyatakan cara memberikan peluang kepada orang lain untuk mengembangkan dirinya, adalah dengan cara melibatkan individu tersebut bekerja bersama dengan dirinya. P8 mencontohkan dirinya sebagai seorang ahli akademik, shering dilakukan dalam bentuk melakukan penelitian bersama, menulis artikel dan jurnal bersama, seperti dinyatakan pada petikan di bawah ini:

P6: …satu cara lagi ialah dengan cara melibatkan bersama dalam research, senantiasa bertanya, mintak respon, beri perhatian. Itu saya lakukan pada semua orang, tidak pilih kasih. Kadang semuanya saya kumpulkan.

P8: Saya akan ajak dia bersama dengan saya, kalau research saya akan ajak dia bersama. Saya tak akan buat research sorang, saya ajak dia bersama karena saya nampak dia ada potensi. ...Saya ajak dia menulis bersama, buat artikelpun saya akan ajak.

Kaedah ketiga yang dinyatakan oleh pakar dalam mengembangkan potensi orang lain adalah dengan cara “memberikan kesadaran” kepada orang tersebut. kadang-kadang tidak semua orang dapat melihat bahawa dirinya mempunyai potensi, sebenarnya mereka bisa lebih berhasil, tapi mereka memerlukan orang lain untuk menunjukkan potensi yang dia dimiliki. Beberapa kaedah dalam memberi kesadaran yang dinyatakan oleh pakar adalah “memberi tahu secara langsung, menjadikan diri sebagai contoh, dan berperan sebagai pembimbing”. Seperti dinyatakan oleh P2, untuk memberikan kesadaran kepada orang lain agar mereka dapat mengembangkan diri ke arah yang lebih baik, biasanya dia akan memanggil langsung orang tersebut dan menyatakan bahawa dirinya mempunyai potensi yang besar untuk lebih berhasil. Hal sama juga dinyatakn oleh P6, untuk memberikan kesadaran kepada orang lain kebiasaanya dia mengingatkan orang tersebut, seperti petikan wawancara di bawah ini:

P2: Biasanya saya akan memanggil mereka, dan saya beri tahu potensi dirinya bahwa dia bisa memperoleh yang lebih baik. ...saya akan memberikan nasehat kepada semuanya... supaya menjaga prestasi, jaga prestasi sekolah...

P6: Saya ingatkan mereka, tapi memanglah manusia ini kan tidak sama, so memang saya gerakan semua, semua itu adalah di bawah tanggungjawab saya. So saya tidaklah selectively individu tertentu saja untuk saya bantu.

Satu cara lagi yang disampaikan oleh pakar dalam memberikan kesadaran kepada orang lain, agar mereka dapat mengembangkan potensi diri sendiri adalah dengan cara “menjadikan diri sendiri sebagai contoh”. Seperti disampaikan oleh P2 dan P5. Kadang dia coba menjadikan dirinya sebagai contoh kepada orang lain, ataupun memberikan contoh orang-orang yang berhasil di lingkunganya. Kaedah ini dapat membuka pikiran orang lain untuk menyadarkan diri mereka, bahwa dirinya juga mempunyai potensi yang sama untuk bisa berhasil seperti orang-orang tersebut. P5 juga menyatakan bahwa terkadang tidak semua orang dapat melihat potensi yang dimiliki, tetapi dia bisa melihat bahwa orang itu mempunyai potensi untuk berhasil, dia berusaha untuk menjadi leader kepada orang tersebut, seperti dinyatakan pada petikan wawancara di bawah ini:

P2: ...kadang-kadang saya coba jadikan diri saya sebagai contoh, ...menjadikan diri kita sebagai contoh untuk mereka melonjak ke depan. Specialy dalam bidang akademik, ... sebab kita contoh yang paling dekat dengan mereka. ... ataupun dijadikan contoh orang-orang yang berhasil di lingkungan kita.

P5: Kadang-kadang dia tidak nampak tapi saya nampak, dia ini sepatutnya menuju ke sini, ...jadi saya lead dia, supaya pergi kepada jalan yang lebih baik yang dapat mengantarkan dia kepada keberhasilan.

Hasil kajian yang dipaparkan di atas menunjukkan pandangan pakar tentang cara pembinaan sifat empati di kalangan guru-guru yang bertugas dalam seting pendidikan. Walaupun pakar menyatakan dalam redaksi yang berbeda, namun secara umumnya mereka menyatakan tentang kaedah-kaedah penting dalam untuk pembinaan sifat empati tersebut.

E. Perbincangan dan Implikasi Kajian Dalam Dunia Pendidikan

Perhatian terhadap keadaan orang lain memang merupakan basic bagi seseorang untuk dapat memahami orang lain. Mustahil bagi seseorang dapat merasakan apa yang diarasakan orang lain sekiranya dia tidak dapat perhatian terhadap orang tersebut. perhatian bukan hanya sekedar dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, tetapi coba melakukan sesuatu untuk membantu orang tersebut dari permasalahan yang sedang dihadapi sesuai dengan kemampuan. Seseorang yang memiliki sifat perhatian tentang keadaan orang lain, dia berusaha mencari jalan penyelesaian walaupun kadang-kadang perlu melibatkan orang-orang di luar dirinya. Ini sejalan dengan pandangan Goleman (1999) yang menyatakan seseorang yang mempunyai sifat perhatian dalam dirinya mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sosial, dia dapat memahami dengan tepat situasi yang terjadi pada di lingkungan tersebut. Individu ini tidak berhenti sampai di sini, malah coba melihat peluang apakah yang bisa disumbangkan terhadap lingkungan sekiranya ada sesuatu yang perlu dibetulkan. Kalau dikaitkan dengan profesi seorang guru, perhatian terhadap keadaan orang lain sebenarnya merupakan basic yang sangat penting untuk menjadikan guru tersebut menjadi seorang guru yang baik (Chernis 1998; Corey, Corey & Callahan 2003; Goleman 1999; Katzenbach 2000; Muhibbin Syah 1995; Tajudin Ninggal 2003; Shahbani 2005).

Taufiq Pasiak (2007) menyatakan seseorang yang selalu perhatian terhadap orang lain, menjadikan hatinya lebih baik dan lebih sensitif dengan keadaan orang lain itu. Dari segi kesehatan juga didapati individu seperti ini lebih sehat ketimbang individu yang kurang sensitif dengan keadaan orang lain, individu yang hanya sibuk memikirkan diri sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Taufiq menyatakan individu yang sensitif dengan keadaan orang lain selalu memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum mengulurkan bantuanya kepada orang lain tersebut. individu seperti ini dilihat sebagai seorang yang mempunyai nilai tinggi oleh lingkunganya. Nilai tersebut merupakan obat yang paling mujarab untuk meningkatkan kekebalan pada tubuh seseorang. Keadaan inilah yang menyumbang terhadap kesehatan mereka. Realita kehidupan memang membuktikan, sekiranya seseorang merasa tidak bernilai ataupun tidak berguna dalam lingkunganya, dapat menimbulkan stres pada dirinya. Apabila selalu dalam keadaan stres maka penyakit lain mudah menyerang (Taufiq Pasiak 2007; Zinah Ahmad & Hamdan Mohd. Ali 2006).

Jika dikaitkan dengan pandangan Islam perhatian terhadap keadaan orang lain memang dinilai sebagai perbuatan yang sangat baik dan bisa mendatangkan pertolongan Sang Khaliq terhadap individu yang memiliki sifat tersebut. Seperti dinyatakan dalam al-Qur’an; Q.S Muhammad; 7:

Siapa yang menolong Agama Allah maka Allah akan menolong mereka.
Orang-orang yang menolong Agama Allah yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah termasuk orang yang perhatian terhadap kepentingan hamba-hamba Allah, yang bertugas sebagai khalifah di muka bumi ini. Jikalau Allah menghendaki, sesuatu yang tidak terfikirkan oleh akal kita bisa saja terjadi, kerana Dia yang Maha tahu, dan Dia Bisa melakukan sesuatu berdasarkan kehendaknya, yang kemungkinan tidak terjangkau oleh akal fikiran manusia.

Selanjutnya bertoleransi dan merendahkan ego juga didapati membantu seseorang untuk dapat memahami orang lain. Individu yang selalu melihat dirinya lebih daripada orang lain, ataupun sering dikatakan sebagai individu yang egois, dalam realiti kehidupan memang sering dilihat kurang sensitif ataupun kurang peka dengan keadaan orang lain. Individu seperti ini biasanya mempunyai hati yang keras, berat bagi dirinya untuk berada pada posisi yang sejajar dengan orang lain, apa lagi pada posisi di bawah orang lain. Dia merasakan dirinya lebih hebat, lebih berkemampuan ketimbang orang lain. Keadaan ini yang menjadikan dirinya sulit perasaan orang lain. Ciri-ciri individu yang mudah bertoleransi ansur dan merendahkan ego selalunya mudah memberikan penghargaan kepada orang lain, memberikan perhatian yang tulus, mau mendengarkan orang lain apabila bercerita tentang dirinya, senantiasa membuat orang lain penting di hadapanya, mudah meminta maaf apabila merasa bersalah, ringan lidahnya untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain, mudah memberikan pujian kepada orang lain, dan selalu berusaha memahami perasaan orang lain (Ary Ginanjar 2005). Individu yang memiliki ciri-ciri ini tentunya sangat mudah memahami orang lain, kerana dia melihat orang lain sangat berharga di hadapannya, menyayangi orang lain sama seperti menyayangi diri sendiri.

Individu yang mudah bertoleransi dan merendahkan ego kebiasaanya memiliki prinsip selalu memberi dan mengawali (Ary Ginanjar 2005). Prinsip memberi dan mengawali merupakan prinsip Bismillah. Kalau diperhatikan dalam Al-Qur’an semua awal-awal surah diawali dengan bismillahirrahmanirrahiim. Kalimat ini bermaksud “dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang” Pengasih dan penyayangnya Allah tidak ada dapat menandingi, Allah tidak hanya mengasihi dan menyayangi umat Islam tetapi Allah mengasihi semua makhluk ciptaanya. Dengan perkataan lain tidak pilih kasih. Kasih dan sayang Allah adalah kasih dan sayang yang tulus, ikhlas yang tiada tandingnya, dan tidak pernah meminta balasan kasih sayang yang diberikan. Inilah yang dimaksudkan dengan prinsp Bismillah iatu prinsip selalu memberi dan memulai. Disedari ataupun tidak Allah telah menjanjikan bahawa Dia akan membalas setiap perbuatan yang dilakukan oleh hamba-hambanya, seperti dinyatakan berikut ini:
... maka barangsiapa yang melakukan kebaikan walaupun sebesar biji Zarah, Ia pasti akan melihatnya! Dan barang siapa melakukan kejahatan walaupun sebesar biji Zarah, Ia juga pasti akan melihatnya (QS. al-Zalzalah: 7-8).
Kaedah terakhir yang dihasilkan kajian ini untuk pembinaan memahami orang lain adalah ”fleksibel terhadap orang lain”, iaitu kesediaan seseorang untuk menerima orang lain dalam pelbagai keadaan. Dalam istilah lain sering juga disebut menerima orang lain tanpa syarat. Dalam realita kehidupan memang dapat dibuktikan bahwa seseorang yang dapat menerima orang lain tanpa syarat, sangat mudah untuk memahami keadaan orang lain, kerana individu seperti ini melihat orang lain bukan menurut ukuran dirinya tetapi dia coba memahami orang lain berdasarkan keadaan orang tersebut. Inilah yang menyebabkan dirinya sangat mudah untuk memahami orang lain. Ini sejalan dengan pandangan Goleman (1999) yang menyatakan individu yang memiliki sifat fleksibel berkemampuan untuk menditeksi perasaan orang lain dari perspektif orang tersebut. Menunjukkan keinginan yang mendalam terhadap kehendak dan masalah yang dihadapi oleh orang lain. Menurut Goleman individu ini sangat sensitif terhadap tingkah laku yang ditunjukkan oleh seseorang, dan berminat mendengarkan pelbagai masalah yang diceritakan seseorang kepadanya.

Pembinaan sifat empati yaitu mengembangkan potensi orang lain. Hasil juga menunjukkan terdapat tiga kaedah yang dinyatakan oleh pakar umtuk pembinaan mengembangkan potensi orang lain tersebut, iaitu “beri sokongan dan galakan, memberikan peluang, dan memberikan kesadaran”. Hasil kajian ini sejalan dengan pandangan Goleman, Boyatzis & McKee (2002) yang menyatakan untuk mengembangkan potensi orang lain memang digalakan bagi seseorang untuk memberikan sokongan dan galakan terhadap individu yang hendak dibantu. Menurut mereka, seseorang yang memiliki keterampilan memberikan sokongan dan galakan kepada orang lain, mampu mendeteksi kepentingan dan potensi yang perlu dikembangkan pada orang tersebut. Individu ini memiliki cara tersendiri untuk memberikan ganjaran atas kekuatan dan keberhasilan seseorang. Ciri-ciri yang unik pada individu ini adalah bisa menjadi pembimbing kepada orang lain, senantiasa menawarkan pekerjaan yang menantang kepada seseorang untuk tujuan membentuk dan mengembangkan potensi individu tersebut.

Seseorang yang selalu melihat kepentingan mengembangkan potensi orang lain ini berprinsip bahwa keberhasilan yang diperolehi oleh seseorang, sekiranya tidak memberikan pengaruh kepada orang lain, maka individu tersebut belumlah dianggap berhasil. Dengan perkataan lain, individu yang berhasil adalah individu yang dapat membantu orang lain berhasil bersama-sama dengan dirinya, inilah yang disebut dalam konsep Islam sebagai “Rahmatan Lil ’Aalamin” iaitu prinsip keberhasilan untuk semua orang. seseorang yang memiliki prinsip ini, merasa tidak nyaman sekiranya orang-orang di sekelilingnya tidak dapat dia bantu untuk memperolahi keberhasilan secara bersama-sama. Inilah yang dimaksudkan oleh Q.S. al-Qashas: 84 yang bermaksud;

Sesiapa yang membawa kebaikan, pahalanya adalah lebih baik daripada kebaikan yang dia lakukan...(QS. al-Qashas: 84).
Gardner (1999) berpandangan bahwa hasil kerja berkelompok adalah lebih baik berbanding kerja sendirian. Menurut Gadner kerja secara berkelompok bukan hanya berpengaruh kepada skor yang diperolehi oleh siswa, tetapi juga membawa kebaikan kepada cara berkomunikasi dan berinteraksi dalam kalangan siswa tersebut. Dalam kerja secara berkelompok masing-masing individu akan menyumbangkan pikiran untuk kelompok tersebut. Setiap pikiran yang disampaikan kemungkinan melihat satu isu dari perspektif yang berbeda, sehingga melahirkan kepelbagaian pandangan dalam kumpulan tersebut. Kepelbagaian yang ditunjukkan oleh masing-masing ahli dalam kelompok, secara tidak langsung merupakan wadah latihan bagi individu untuk menghargai pandangan orang lain. Menghargai pandangan orang lain bermakna mendukung, memberikan galakan serta memberikan peluang kepada orang tersebut untuk memberikan pandangan mereka pada isu-isu yang lain. Inilah persamaan pandangan Gardner tersebut dengan dapatn kajian ini.

Memberikan peluang kepada orang lain juga merupakan satu kaedah yang disampaikan oleh pakar untuk mengembangkan potensi orang lain. Memberikan peluang kepada orang lain secara tidak langsung telah memberikan keyakinan kepada mereka untuk membuktikan kemampuan yang dia miliki. Seseorang yang diberikan peluang untuk bertanggungjawab terhadap suautu pekerjaan, cara penerimaan dan cara mereka melaksanakan pekerjaan tersebut akan berbeda dari mereka bekerja di bawah pantauan orang lain. Secara tidak langsung cara seperti ini merupakan kaedah untuk mengembangkan potensi orang lain. Menurut Gray (2001) memberikan peluang kepada orang lain untuk mencoba sesuatu bagi tujuan mengembangkan potensi diri mereka sebenarnya merupakan tanggungjawab bagi setiap orang. Menurut beliau apabila seseorang merasakan bahwa mengembangkan potensi orang lain merupakan tanggungjawab, maka dirinya akan merasa bangga dan bahagia melihat orang lain berhasil.

Apabila seseorang bahagia melihat keberhasilan orang lain, kebahagiaan itu sebenarnya adalah kebahagiaan dirinya sendiri, karena individu ini melihat orang lain adalah bahagian dari dirinya yang mesti dibantu sebagaimana membantu dirinya sendiri (Gray 2001). Menurut Gray keberhasilan peribadi adalah rasa bahagia yang dimiliki oleh seseorang, dan berhak dalam proses melaksanakan sesuatu hal yang ingin dilakukan. Berhak dalam proses melakukan hal yang ingin dilakukan bukan bermakna hidup tanpa aturan, maknanya di sini adalah bertindak berdasarkan prinsip kebenaran. Justeru, apabila seseorang memberikan peluang kepada orang lain untuk membantu mengembangkan potensi dirinya sebenarnya dia telah memberikan kebahagiaan kepada dirinya sendiri, kerana ini merupakan fitrah manusia.

Kaedah ketiga yang dihasilkan dalam kajian ini untuk mengembangkan potensi orang lain adalah dengan cara “memberikan kesadaran”. Al-Ghazali mengelompokan manusia kepada empat kelompok besar, salah satunya adalah ”kelompok orang yang tahu, tetapi dia tidak tahu bahwa dirinya tahu”. Dalam relalita kehidupan memang sering dilihat kelompok orang seperti ini. Orang seperti ini memerlukan orang lain untuk mengingatkan mereka, karena dia tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai potensi untuk berkembang lebih baik dari apa yang didapatkan sekarang. Menurut Goleman (1999) individu seperti ini dikaitkan dengan individu yang rendah kesadaran terhadap diri sendiri ataupun kurang memiliki kreativitas untuk menilai kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Justeru, individu seperti ini membutuhkan orang lain untuk memberikan kesadaran kepada dirinya supaya dia dapat melihat kembali potensi yang dimilikinya. Dalam Islam kaedah ini menjadi unggulan Rasulullah saw untuk membina umatnya sama-sama menuju keberhasilan. Seperti dinyatakan dalam Q.S. Ali-Imran: 104:

Dan hendaklah diatara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung(QS. Ali Imran: 104).
Menyeru kepada kebajikan dimaksudkan oleh ayat ini adalah termasuk memberikan peringatan kepada orang-orang yang tidak dapat melihat potensi dirinya dengan baik. Individu yang menggunakan pendektan ini dikaitkan dengan keberuntungan. Keberuntungan dimaksudkan adalah keberhasilan individu tersebut mengingatkan kembali individu yang selama ini kurang melihat potensi yang dimiliki dalam dirinya. Ketiga kaedah yang dihasilkan dalam kajian ini nampaknya memang sejalan dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh orang-orang yang berhasil membantu mengembangkan potensi orang lain.

Rujukan:

Corey, M. S. & Corey, G. 1997. Groups: Process and practice. Ed. Ke-5. Pcific Grove: Brooks/Cole Publishing Company.

Corey, Corey dan Callanan. 2003. Issue and ethics in helping profession, 5th Brookes/Cole Pub. Co. Pacific Grove.

Creswell, J. W. 2007. Research design: qualitative and quantitave approaches. Thousand Oaks: SAGE Publication.

Dulewicz,V.& Higgs, M. 2004. Can emotional intelligence be developed? Journal of Human Ressource management. 15:95-111.

Goleman. D. 1996. Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: Bantam Books.

Goleman. D. 1999. Working with emotional intelligence. New York: Bantam Books.
Trikantojo Widodo. 1999. Jakarta: PT.Gramedia Utama.

Goleman. D. 1999. Kecerdasan emosi untuk mencapai puncak prestasi. Terj. Alex.

Goleman. D., Boyatzis, R. & Mckee, A. 2002. The new leaders: Transforming the art of leadership into the science of results. London: A Little, Brown Book.

Ginanjar, A. A., 2005. Rahasia sukses membangkitkan ESQ power: sebuah inner journey melalui al-ihsan. Jakarta: Arga.

Ginanjar, A. A., 2003. Rahasia sukses membangkitkan ESQ power: sebuah inner journey melalui al-ihsan. Jakarta: Arga.

Goleman. D. 1995. Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York: Bantam Books.

Khadim al-Haramain Asy Syarifain. Al-Qur’an dan terjemahnya. Madinah Al-Munawwarah: Perpustakaan Su‘udi.

Majid Konting, M. 2005. Kaedah penyelidikan pendidikan. Kuala umpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Mohd Najib Ghafar. 2000. Kestabilan emosi guru: perbandingan antara pensyarah dan pelajar. Jurnal Teknologi 32 (E): 1-10.

Noriah, M.I., dan Aliza, A., 2002. Kecenderungan menghadapi tekanan dan implikasinya terhadap kesihatan mental guru-guru. Prosiding seminar kebangsaan profession pergurun 2002, Bangi: Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Noriah, M.I., Zuria,M, Siti Rahayah, A. dan Manisah M.A. 2003. Hubungan antara Tanggungjawab Kepada Diri, Pelajaran, Pelajar dan Masyarakat di Kalangan Guru-guru. Prosiding seminar kebangsaan profession pergurun 2003. Bangi: Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Noriah, M.I., Zuria,M, Siti Rahayah.A., dan Manisah, M.A. 2002. Hubungan antara tanggungjawab kepada diri, pelajaran, pelajar dan masyarakat di kalangan guru-guru. Jurnal Pendidikan. Jilid 24: 548-555.

Noriah M.I., Zuria, M. 2003. Kepintaran Emosi di Kalangan Pekerja di Malaysia. Prosiding IRPA- RMK-8 Kategori EAR. Jilid 1: 184-187.

Noriah, M.I., Nor Sakinah. M. 2003. Pola pertautan guru- pelajar dan komitmen terhadap profesyen perguruan di kalangan guru-guru pelatih. VirTEC Journal. Volume 3, No.1, May 2003.

Noriah, M.I., Syed Najmuddin, S.H. dan Syafrimen. 2004. Guru dan kepintaran emosi: Implikasi ke atas kebolehan guru dalam menangani masalah sosial pelajar. Prosiding seminar kebangsaan ke-3 psikologi dan masyarakat. Bangi: Pusat penerbitan dan teknologi pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Noriah, M.I. 2005. Pengurusan kecerdasan emosi (EQ) dan pembangunan kendiri pelajar. Prosiding seminar kepengetuaan kebangsaan ke-4. Kuala Lumpur; Universiti Malaya.
Noriah et al. 2004. Manual Iventori Kecerdasan Emosi Malaysia, IKEM (D). versi 2. Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia.

Parson, M & Stephenson, M. 2005. Developing reflective in student teachers: collaboration and critical partnerships.

Khairul Ummah et al. 2003. Kecerdasan Miliyuner. Bandung: Aha.

Sidek Mohd Noah. 2002. Reka bentuk penyelidikan faslafah, teori dan praktis. Selangor: Universiti Putera Malaysia.

Syafrimen. 2004. Profil kecerdasan emosi guru-guru sekolah menengah Zon Tengan Semenanjung Malaysia. Kertas Projek Sarjana. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Syed Najmuddin, S. H. 2005. Hubungan antara faktor kecerdasan emosi,nilai kerja dan prestasi kerja di kalangan guru Maktab Rendah Sains Mara. Tesis Doktor Falsafah. Universiti Kebangsaan malaysia.

Taufiq Pasiak. 2007. Brain management for self improvement. Bandung: P.T. Mizan.

Wan Ashiba. 2003. Kecerdasan emosi di kalangan guru sekolah menenga berasrama penuh dan sekolah harian. Kertas projek Sarjana. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Yin, R. K. 1993. Applications of case study research. Newbury Park: SAGE Publications.

Zinah Ahmad, Z. & Hamdan Mohd. Ali 2006. Tekanan kerja dan kesihatan pekerja. Dlm Rohany Nasir & Fatimah Omar. (pnyt.). Kesejahteraan manusia perspektif psikologi. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

1 comment:

  1. assalamualaikum,
    dr, saya berminat untuk mengkaji empati dalam kalangan kanak-kanak. boleh saya tau adakah terdapat alat kajian khusus untuk melihat/menilai empati kanak-kanak. mohon dikongsikan.tq dr. ini email saya aznies_gurl@yahoo.com

    ReplyDelete